Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia, provinsi Kalsel terletak di salah satu pulau terbesar di Indonesia yang bernama pulau Kalimantan (Borneo). Ibu kota dari Kalimantan Selatan ialah kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan memiliki 13 kabupaten, antara lain :
- Banjarmasin
- Banjarbaru
- Kota Baru
- Kab. Banjar
- Kab. Barito Kuala
- Kab. Tanah Bumbu
- Kab. Tanah Laut
- Kab. Tapin
- Kab. Hulu Sungai Selatan
- Kab. Hulu Sungai Tengah
- Kab. Hulu Sungai Utara
- Kab. Balangan
- Kab. Tabalong
Di Indonesia, Banjarmasin terkenal dengan beberapa budaya kesenian, makanan, serta ciri khas dan lagu-lagu Banjar.
Kesenian dan Budaya Kalimantan Selatan
Budaya dan tradisi orang Banjar adalah hasil asimilasi selama
berabad-abad. Budaya tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan Islam yang
dibawa oleh pedagang Arab dan Persia.
Budaya Banjar dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat
Banjar khususnya dalam bentuk kesenian, tarian, musik, pakaian,
permainan dan upacara tradisional.
Adat istiadat Banjar yang melekat dengan kehidupan sosial warga
masyarakat yang bercirikan Islam terus terjaga dan dipertahankan, nampak
dari aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini dapat juga
disaksikan melalui berbagai pentas kesenian Banjar yang sering
ditampilkan dalam acara-acara resmi, seperti tari-tarian dan lagu
Banjar. Demikian pula upacara adat khas Banjar yang biasanya
dilaksanakan dalam rangka perkawinan, kelahiran, ataupun peringatan
terhadap peristiwa penting lainnya. Dari banyaknya ragam kesenian
tersebut yang terkenal adalah :
- Madihin
- Mamanda
- Japen
- Balamut
- Hadrah
- Musik panting
- Upacara Maarak Penganten
- Bamandi-mandi
- Maayun Anak, dll.
Kesemuanya itu adalah kekayaan budaya yang sangat menarik
Tarian tradisional yang biasa ditampilkan pada upacara Tradisional
seperti: tari “Baksa Kambang”, “Baksa Lilin”, “Kula Gepang”, “Maiwak”,
dan lain-lain. Ada sekitar 76 Jenis tarian. Tari tradisional biasanya
diiringi oleh alat musik tradisional seperti: babun, gambang, aron,
salantang, kedernong, gong, suling, rehab dan dan lain-lain.
Makanan Khas Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan terdapat beberapa makanan dan kue dari berbagai kabupaten yang menjadi kuliner khas Kalimantan Selatan, antara lain :
- Soto Banjar
- Nasi Kuning Masak Habang
- Masak Bistik
- Ketupat Kandangan (kab. HSS)
- Dodol Kandangan (kab. HSS)
- Apam Barabai (kab. HST)
- Kueh Lam (kab. HST)
- Iwak Pakasam
- Mandai, dll.
Kain Sasirangan Ciri Khas Kalimantan Selatan
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan
Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya
digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum
lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum
wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara
adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain
sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi
pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari
Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas
daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan”
berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau
dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa
jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain
sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit
dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang
diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka
warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.
Proses Pembuatan Kain Sasirangan
Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.
Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.
Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna
untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan
untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan
saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai
pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih.
Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat
pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua
larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa
tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin
sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan
zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan
untuk mewarnai kain sasirangan.
Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus
ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya,
diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit
demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan
didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan
keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat
dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara
pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang
telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya
sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi
sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna,
kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga
terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada
kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah
selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan.
Sumber : Klik di Sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar